Apron Muyi

Oleh: Hans Wysiwyg

“Aku mau tokoh novelku itu ganteng, putih, poninya panjang. Kalau bisa ada lesung pipitnya,” Muyi terus menerocos di telepon, dan May mendengarkan dengan sabar.

Pintu kafe tiba-tiba terbuka, dan seseorang yang ciri-cirinya disebut Muyi kini sedang berjalan ke counter memesan sesuatu.

Muyi membeku dengan gadget masih menempel di telinganya, sementara ia tak bisa mengendalikan bibirnya yang menganga.

May mengerutkan dahi di ujung telepon.

“Halo?” katanya.

Tak ada jawaban.

“Muyi?”

Sunyi.

May menjauhkan ponsel dari telinganya sebentar, menatap layar, lalu menempelkannya lagi.

“Halo! Muyi!”

Muyi masih berdiri membeku, matanya mengikuti laki-laki yang baru masuk itu berjalan menuju counter.

“Muyi, kamu masih di sana?” suara May mulai meninggi.

Tak ada respon.

“Jangan bilang sinyalmu putus.”

May mengetuk-ngetuk ponselnya.

“Halo! Halo! MUYI!”

Muyi tetap diam, bibirnya masih sedikit terbuka. Laki-laki itu kini berdiri di depan counter, menunduk membaca menu.

“MUYI!” teriak May dari seberang telepon.

“Kenapa tiba-tiba diam?! Kamu habis jatuh atau apa?”

Muyi nyaris tidak berkedip.

“Kalau kamu pingsan, batuk dua kali!”

Tetap tak ada jawaban.

May mulai panik.

“Jangan berca...

Baca selengkapnya →