Aroma Lily

Oleh: Adnan Fadhil

Bab 1

Di kamar pengap nyaris gelap, aku mondar-mandir sambil terus menggigiti kuku jempol. Langkahku semakin berat. Bau amis semakin kental. Aku tersedak dan terbatuk sampai tenggorokanku panas.

Kuseka mata berair sambil tetap melangkah. Aku berhenti saat nyaris menabrak jendela bergorden marun. Kulirik tangan gemetar lalu berbalik badan dan bergerak lagi. Kuku jempol masih kugigiti. Fokusku mengabur hingga tanpa sadar tersandung.

Aku berdecak, berpaling pada ranjang berseprai krim dengan bercak-bercak merah. Kutelan ludah melihat perempuan yang terbaring di sana. Kutatap matanya. Dia balas memelototiku. Aku menunduk. Tangan kiriku sibuk memijat jemari kanan, berusaha meredam getarnya.

Aku paham kenapa dia menatap bengis seolah menyalahkanku. Tapi seharusnya dia tak perlu begitu. Aku suaminya. Seharusnya dia tahu yang kulakukan tadi murni kecelakaan.

Tanganku mengepal dan menatap lagi matanya, menantangnya sambil menggeretakkan gigi demi mendapat pengakuan. Kutahan napas menanti putusannya sambil berusaha tak berkedip.

Detik-detik kuhitung. Lima. Sepuluh.

Akhirnya aku menyerah. Pengakuan itu tak mungkin bisa kudapat.

Aku merogoh saku celana, mengambil kalung emas berliontin kelopak lily. Kutatap liontin itu lekat-lekat. Seharusnya malam ini istimewa. Aku akan memberikan kalung ini padanya, berbicara dari hati ke hati supaya kami dekat kembali.

Tapi—

Kulirik lelaki yang menelungkup di lantai dekat ranjang. Kugenggam liontin li...

Baca selengkapnya →