Art-A Latte

Oleh: Dear An

Di sudut sebuah kafe yang dipenuhi aroma pekat biji kopi panggang dan mentega dari croissant hangat, Aira mematung sendirian. Cahaya jingga matahari sore menerobos masuk melalui jendela kaca besar, menyinari cangkir cappuccino yang kini tak lagi mengepul. Blus krem yang ia kenakan tampak menyatu sempurna dengan estetika kayu kafe, namun raut wajahnya menghancurkan segala keharmonisan itu. Ujung jemarinya mengetuk meja dengan ritme cepat dan keras...

Baca selengkapnya →