Atap ke Dua

Oleh: myht

The Second Roof

Di bawah selimut yang terasa dingin, Basheera tenggelam dalam lautan air mata. Lima hari sudah, berturut-turut semalam suntuk, tangis dan doa mengalir tanpa jeda. Dalam genggaman tangan yang bergetar, ia selalu memeluk cincin pernikahan sepuluh tahun dari Arsalan. Dan yang paling pedih, juga warisan kasih sayang yang tak bersyarat dari Afifah, mertuanya.

"Cincin ini aslinya milik Ibu. Dia bilang 'khusus untuk menantu kesayangan.' Jadi, jangan heran sepertinya posisiku sebagai anak tunggal sudah tergeser sejak kamu datang," celetuk Arsa pura-pura ngambek di malam pertama mereka.

Hatinya mekar, seindah bunga di pagi hari. Sejak awal Arsalan membawanya ke rumah, Afifah memang telah menjadikannya pusat perhatian. Memanjakan dengan cinta yang tak pernah ia sangka.

Kini, cincin itu terasa seperti jangkar yang menahannya pada kenangan indah, sementara badai menerjang hatinya.

"Sheeraku, aku tahu ini mungkin terdengar tak biasa, tapi ada satu hal yang ingin ku tanyakan.” Dua hari setelah pulang dari Mesir, setelah menghadiri wisuda putri semata wayang mereka, Arsa mendadak berbicara serius di meja makan.

“Jika garis takdir menuntunku … untuk mengikat janji suci yang kedua. Maukah kau dengan segala kekuatan cintamu membentangkan tangan dan mengizinkan aku berbagi janji itu … tanpa kehilanganmu?”

Setiap kali berduaan, Arsa memang sering sekali mengeluarkan pesona sastranya. Menjadikan percakapan sederhana terasa hangat dan bermakna. Dari sanalah Basheera jatuh cinta, sejak bangku kuliah hingga bermuara pada pernikahan. Dengan kesadaran yang matang, ia memilih peran sunyi mendukung Arsa dari balik layar tanpa kehilangan dirinya sendiri.

Namun, pesona sastra yang didengar kali ini, menarik rekasi dan denyut berbeda. Setelah mencari-cari tanda humor dan jahil di mata Arsa, meluruhlah bahu Basheera.

Suaminya sungguh ingin memberikan atap ke dua untuk wanita lain.

 

“Mas,” panggil Basheera di hari ke enam mereka tidak saling berbicara.

Arsa baru saja selesai mandi sore. Ia makan sendiri di depan televisi, menyantap hidangan yang masih setia disiapkan Basheera. Ketika menoleh, ia menemukan istri yang sangat dicintainya itu tengah berdiri lusuh di depan pintu kamar tamu. Hatinya meringis sakit telah membawa jalinan bahtera mereka jatuh dalam sekejap.

Belum sempat menjawab, kembali terdengar sesuatu yang malah mempertajam sesal.

“Kenalkan aku pada wanita itu. Aku perlu tahu dia pantas atau tidak berbagi hati dan cinta yang selama ini kujaga,” tegas Basheera berucap, lalu kembali menutup pintu.

Arsa sungguh tidak menyangka efek dari keinginannya akan melanda keruh.

Sebelumnya, di malam ia bertanya, mereka sempat bersitegang m...

Baca selengkapnya →