Syaribanun langsung menjatuhkan tubuhnya di sofa. Tangannya refleks meraih kipas, meski udara sore masih lembap karena hujan mengguyur tak berhenti sejak pagi. Dari dapur, aroma kopi hitam yang baru diseduh belum bisa menenangkannya.
“Bang,” katanya akhirnya, suaranya ditahan-tahan, “sudah hampir Maghrib, waktu shalat Asarnya nanti habis.”
Bardan yang baru masuk rumah hanya mengangguk singkat. Bajunya masih basah keringat, wajahnya kusam, l...