Bayang bayang diujung badai

Oleh: Yulia ganesya

Bau minyak tanah dan asap dapur menyengat hidung Nadia saat ia melipat seragam SMP berbahan katun lusuh itu. Di luar, hujan deras mengguyur atap seng kontrakan mereka di pinggiran kota Pekanbaru, menciptakan suara bising yang seolah meredam bisik-bisik orang dewasa di ruang tamu.

"Nadia anak yang paling paham kondisi kita, Bu," suara ayahnya terdengar berat dari balik pintu kayu yang renggang. "Kakaknya mau lanjut STM, adik-adiknya masih kecil. Kalau Nadia berhenti sekolah sekarang, beban kita berkurang satu."

Nadia menggigit bibir bawahnya hingga terasa asin darah. Jemarinya yang kurus meremas pinggiran kain seragam. Di usianya yang baru 17 ta...

Baca selengkapnya →