Benang Songket, Benang Rasa

Oleh: Amrullah Ibrahim

Bagian Satu: Lelaki dari Kota yang Lelah

Jakarta tidak pernah benar-benar tidur.

Arkan Ar Rimbai sudah hafal itu sejak pertama kali ia pindah ke ibu kota delapan tahun lalu—seorang pemuda dari Palembang dengan dua koper lusuh, satu mimpi besar, dan tiga juta rupiah pinjaman dari pamannya. Hari itu ia turun dari kereta bandara dengan mata yang berbinar dan langkah yang mantap, yakin bahwa kota ini akan menyambutnya dengan tangan terbuka.

Jakarta tidak menyambut siapapun dengan tangan terbuka.

Ia menyambut dengan siku, dengan tikungan tajam, dengan lampu merah yang tidak pernah berubah hijau di saat yang paling kamu butuhkan. Tapi Arkan bertahan. Ia belajar membaca ritme kota yang brutal itu, mengikuti detak jantungnya yang tidak kenal istirahat, dan perlahan—sangat perlahan—ia tumbuh bersamanya.

Kini, di usianya yang dua puluh tujuh, nama Arkan Ar Rimbai sudah cukup dikenal di kalangan industri tekstil Jakarta. Perusahaannya, Rimbai Textile, belum sebesar pemain-pemain kakap, tapi sudah cukup untuk memberinya kantor di lantai dua belas gedung modern di kawasan Sudirman, sebuah apartemen minimalis di Kuningan, dan dua orang karyawan yang setia. Ia memproduksi dan mendistribusikan kain-kain premium—linen, katun Mesir, dan beberapa lini kain tradisional Nusantara yang ia percaya punya pasar yang jauh lebih besar dari yang kebanyakan orang bayangkan.

Hidupnya teratur. Rapi. Efisien.

Dan sangat, sangat melelahkan.

Itu sebabnya ketika Fathan, sahabatnya sejak kuliah, mengirim pesan di tengah malam dengan bunyi notifikasi yang membangunkan Arkan dari tidur dangkalnya:

"Kan, ayo ke Palembang minggu depan. Aku ada urusan bisnis di sana, tapi bisa sekaligus jalan-jalan. Kapan lagi? Lu udah kayak robot 3 bulan terakhir."

Arkan menatap layar ponselnya lama.

Ia meletakkannya kembali. Memejamkan mata. Mencoba tidur.

Tapi pikiran soal kuartal ketiga yang belum mencapai target, soal vendor kain sutera yang bermasalah, soal pitch deck yang harus selesai sebelum Jumat—semua itu berputar di kepalanya seperti kaset yang rusak.

Ia meraih ponselnya lagi.

"Oke. Aku ikut."

Tiga hari kemudian, ia sudah di bandara Soekarno-Hatta dengan ransel dan satu koper kecil, menunggu Fathan yang seperti biasa terlambat dua belas menit. Ketika pesawat akhirnya mengangkat mereka d...

Baca selengkapnya →