Di sebuah dusun kecil di Kulon Progo, hamparan sawah hijau selalu menyambut pagi dengan tenang. Di sanalah tinggal Tulkinem dan Amir, sepasang suami istri yang hidupnya sederhana namun penuh dengan romansa yang hangat. Bagi orang-orang di sekitarnya, mereka adalah potret nyata dari istilah Jawa wong wedok dadi gendere wong lanang, wong lanang dadi bature wong wedok—saling melengkapi, saling menjaga, dan selalu bersama ke mana pun angin membawa langkah mereka.
Setiap hari, bahkan sebelum ayam berkokok menyambut fajar, Tulkinem sudah sibuk di dapur. Asap mengepul dari kayu bakar yang membakar ketel besar. Di dalamnya, berpuluh-puluh jagung manis dan jagung pulut segar sedang direbus. Jagung-jagung itu adalah sumber penghidupan mereka. Sambil menunggu jagung matang, Amir dengan telaten menyiapkan sepeda tua miliknya. Sepeda onthel jaman dulu yang bagian belakangnya sudah dimodifikasi dengan keranjang bambu besar (beronang) untuk membawa dagangan.
"Kang, ini kopinya diminum dulu biar tidak ngantuk di jalan," kata Tulkinem sambil menyerahkan segelas kopi hitam kental beraroma gula jawa.
Amir tersenyum, memandang istrinya dengan tatapan yang masih sama seperti dua puluh tahun lalu saat mereka pertama kali menikah. "Matur nuwun, Nem. Jagungnya sudah siap semua?"
"Sudah, Kang. Semua sudah ditata rapi," jawab Tulkinem sembari menyeka keringat di dahi Amir dengan ujung selendangnya. Sentuhan kecil yang sederhana, namun bagi mereka, itulah bahan bakar energi untuk menghadapi hari yang panjang.
Setelah semua siap, mereka berangkat membelah kabut pagi Kulon Progo menuju pusat kota Yogyakarta. Tempat mengais rezeki mereka berada di dekat Pasar Keraton Yogyakarta. Perjalanan yang cukup jauh itu tidak pernah terasa melelahkan karena mereka melakukannya bersama. Amir yang mengayuh sepeda dengan bertenaga, sementara Tulkinem duduk membonceng di bilah besi samping keranjang, sesekali memeluk pinggang suaminya jika jalanan mulai menanjak atau berbatu. Sepanjang jalan, mereka mengobrolkan apa saja—mulai dari harga pupuk, tingkah lucu tetangga, hingga rencana mereka ke depan.
Sesampainya di dekat Pasar Keraton, lapak sederhana mereka digelar. Hanya beralaskan tikar pandan dan sebuah gerobak dorong kecil untuk menjaga jagung tetap hangat di atas bara api. Aroma harum jagung rebus dan jagung bakar dan jagung mentah yang manis langsung merebak, mengundang para pembeli yang lalu lalang di sekitar kawasan bersejarah tersebut.
"Jagung manisnya, Bu... Pak... Masih hangat, nemu dari ladang sendiri," seru Tulkinem dengan suara yang ramah khas perempuan Yogyakarta. Temponya lembut namun bertenaga.
Amir bertugas mengupas ...