Between Vienna and Us

Oleh: Willia Mangun Putr

BAB 1 — TIGA TAHUN

Namaku Anne.

Aku menikah dengan Grant sudah tiga tahun.

Tiga tahun bukan waktu yang sebentar.

Kami punya rumah besar, kehidupan yang nyaman, pekerjaan yang baik, dan pernikahan yang dari luar terlihat sempurna.

Sayangnya, ada satu hal yang tidak pernah berhasil kami dapatkan.

Anak.

Kami sudah mencoba berbagai cara.

Tapi tetap tidak ada.

Awalnya Grant selalu bilang,

“Tidak apa-apa. Kita masih punya banyak waktu.”

Aku percaya.

Sampai suatu malam dia mengatakan sesuatu yang membuatku sadar bahwa mungkin selama ini aku sendirian dalam mempertahankan pernikahan kami.

“Anne.”

Aku menatapnya.

“Aku berpikir... mungkin aku harus menikah lagi.”

Aku diam.

Tidak menangis.

Tidak berteriak.

Aku hanya menatap lelaki yang sudah menjadi suamiku selama tiga tahun.

“Dengan siapa?”

Grant menunduk.

“Namanya sudah ada.”

Aku tersenyum kecil.

“Wow.”

Dia mengangkat wajah.

“Kamu marah?”

“Tidak.”

Aku berdiri.

“Aku cuma baru sadar ternyata keputusan sebesar ini sudah kau pikirkan tanpa aku.”

“Anne, aku ingin punya anak.”

“Aku tahu.”

Aku mengambil gelas dari meja.

“Dan aku tidak akan menghalangimu.”

Grant terdiam.

“Tapi aku juga tidak akan tinggal di pernikahan yang membuatku merasa seperti penghalang.”

Aku menatapnya.

“Aku minta cerai.”

Kali ini Grant yang diam.

Beberapa minggu kemudian, perceraian kami selesai.

Sebelum pergi, aku mengajukan beberapa permintaan.

“Rumah ini dijual.”

Grant mengangguk.

“Harganya dibagi dua.”

“Setuju.”

“Dan kalau kau mau membeli rumah ini, beli dengan harga pasar.”

Dia menatapku.

“Anne, aku sudah membayar sebagian besar rumah ini.”

“Aku tidak peduli.”

Aku tersenyum.

“Kalau kau tidak setuju dengan harga pasar, aku bisa membuka satu cerita lain.”

Wajah Grant langsung berubah.

Aku menyandarkan tubuh ke kursi.

“Sekretaris kamu.”

Sunyi.

“Bukankah memalukan kalau orang-orang tahu?”

Grant tidak menjawab.

Aku tersenyum.

“Aku tidak akan membongkarnya kalau kau memenuhi permintaanku.”

Akhirnya dia setuju.

Rumah itu menjadi miliknya.

Uang hasil pembagiannya menjadi milikku.

Dan Grant bahkan membiayai perjalanan yang sudah lama ingin kulakukan.

Eropa.

Sebulan penuh.

Aku mengemas koper.

Sebelum keluar dari rumah itu, aku menatap ruang tamu untuk terakhir kalinya.

Tiga tahun kenangan ada di sana.

Aku pernah bahagia.

Aku pernah berharap.

Dan aku pernah berpikir rumah itu akan dipenuhi suara anak-anak.

Ternyata tidak.

Aku menarik koper.

“Selamat tinggal, Grant.”

Kemudian aku pergi.

Enam bulan kemudian.

Grant membuka pintu rumahnya.

Di sampingnya berdiri seorang perempuan.

Perempuan yang akan menjadi istrinya.

Aku tidak ada di sana.

Aku sudah jauh.

Entah sedang minum kopi di Paris, melihat museum di Roma, atau tersesat di jalan kecil di Swiss.

Dan kalau ada satu hal yang mungkin membuatku tertawa...

Grant ternyata tidak sabaran.

Baru enam bulan setelah perceraian, perempuan itu sudah dibawa masuk ke rumah yang dulu kami tinggali bersama.

Aku tidak marah.

Aku hanya berharap dia bahagia.

Karena aku?

Aku sedang belajar bahwa hidup ternyata tidak berhenti hanya karena sebuah pernikahan berakhir.

BAB 2 — GUID...

Baca selengkapnya →