Bidak Catur

Oleh: Aralya Seraquin

“Serangan! Awas, semua! Cari tempat berlindung!”

Mendengar teriakan di luar, Hilal dengan cekatan menarik adiknya yang masih tertidur. Ia tidak sempat menyambar barang-barang yang lain. Lebih tepatnya, Hilal tidak peduli saat itu. Seakan terlatih, kakinya berlari kencang keluar dari tenda pengungsian. Kekuatan kakinya seakan dapat mengalahkan atlet lari internasional. Ia terus berlari tanpa berani melihat ke belakang. Ketika ia berlari, adik...

Baca selengkapnya →