Bilik Pengakuan

Oleh: A. L. Mutiara

Katedral ini tidak pernah benar-benar sepi. Pada jam-jam tanpa kebaktian, pintu-pintu besarnya tetap terbuka. Jiwa-jiwa datang dan pergi dengan alasan yang berbeda-beda. Ada yang berdoa, ada yang duduk diam tanpa gerak, ada pula yang berjalan perlahan sambil menengadah, mengagumi lengkung langit-langit dan kaca patri. Suara langkah kaki bercampur dengan bisik doa, batuk tertahan, dan bunyi kayu bangku yang berderit sesekali.

Pastor Matthew sudah t...

Baca selengkapnya →