[Cerpen ini sebelumnya pernah terbit dalam bentuk buku antologi. Ini adalah versi revisi.]
***
Masih jelas di ingatan Ale tentang malam yang diselimuti badai itu. Sebuah memori yang senantiasa membuat tubuhnya jatuh menggigil tiap kali ingatan itu mendobrak masuk kembali ke dalam kesadarannya.
Lelaki muda berkacamata yang tahun ini genap berusia 20 tahun itu menghembuskan napas pasrah. Di balik parasnya yang tampan, kulit putih, dan tubuh jangkung itu tersimpan rahasia yang tak akan ia tunjukkan secara gamblang kepada siapa pun.
Ale duduk di bangku pojok cafe yang sangat sepi ini, bahkan mungkin hanya dia satu satunya pelanggan sore ini. Tangan kanannya memegang sebuah komik romansa Jepang yang tadi dibelinya di depan outlet buku yang sedang obral cuci gudang.
Sembari memandangi cangkir espresso yang sejak tadi belum disentuhnya, ia menelengkan kepala, berpikir. “Dicintai dan mencintai. Lagi pula, apa itu cinta? Satu-satunya hal yang paling tidak kupahami di dunia ini adalah cinta. Kenapa orang bisa dengan mudah mengatakan cinta? Apakah itu memang benar-benar ‘cinta’? Aku yakin itu pasti hanya jenis emosi lain yang ...