Mercusuar itu berdiri di ujung tanjung, dicat putih dengan garis biru yang mengelupas di sana-sini, seperti kulit yang terbakar matahari lalu perlahan terkelupas. Dari kejauhan, warnanya masih gagah—biru laut yang tegas melawan langit yang lebih pucat. Tapi dari dekat, siapa pun bisa melihat betapa lamanya cat itu tak pernah disentuh kuas baru.
Ilyas berdiri di dermaga kecil, ransel tergantung di satu bahu, menatap bangunan itu seperti menatap w...