Buk!!! Gadis itu meninjuku dengan keras. Mata basahnya berkilat. Dengan napas memburu, tangannya yang gemetar meraih gawai di dekat kompor.
Bunyi telepon tersambung. Dengan suara serak ia berkata, “Lisa, bisa kesini sebentar? Please!” Dan telepon pun ditutup kembali.
Dua tetes air mata mengaliri riasan tebalnya. Aku melihat sebilah logam di tangannya, lalu ia menghampiriku yang tergolek tak berdaya. Tanpa ampun, tubuhku dilubangi.
Tolong! Aku ta...