Sora pindah ke kota itu saat musim gugur, ketika langit tampak pucat seperti porselen retak yang akan jatuh kapan saja. Di rambutnya, tersimpul pita biru—satu-satunya warna cerah yang ia bawa dari rumah lamanya, pengingat akan kehangatan pelukan orang tuanya yang kini lebih sering berada di balik layar ponsel atau tumpukan dokumen pekerjaan. Pita itu masih wangi seperti kamar ibu; Sora selalu menghirupnya saat merasa sendiri.
Kota itu memiliki keseharian, tetapi seolah-olah keseharian itu terjadi tanpa suara. Tak ada tawa anak-anak yang meledak. Tak ada debat kecil tentang mainan. Di taman bermain—satu-satunya tempat yang seharusnya penuh kehidupan—ia menemukan pe...