Broken Vows

Oleh: Willia Mangun Putr

BAB 1 — KEHIDUPAN KEDUA, SETELAH AKU JADI "MATI"

Aku pernah menjadi Permaisuri.

Aku pernah memiliki seorang Kaisar sebagai suami.

Dan aku pernah memiliki seorang putra yang membuat seluruh hidupku terasa sempurna.

Sampai suamiku jatuh cinta kepada perempuan lain.

Bukan putri kerajaan.

Bukan bangsawan.

Hanya seorang perempuan yang berjualan mie di depan istana.

Awalnya aku pikir itu hanya ketertarikan sesaat.

Ternyata tidak.

Kaisar benar-benar ingin meninggalkan istana demi perempuan itu.

Dan ketika aku menolak menceraikannya, aku serta putraku kehilangan nyawa.

Aku masih ingat malam itu.

Pedang.

Darah.

Tangisan anakku.

Lalu semuanya gelap.

Ketika membuka mata, aku justru menemukan langit-langit kamarku.

Tanganku masih utuh.

Tubuhku tidak terluka.

Dan dari balik tirai terdengar suara dayang.

“Permaisuri sudah sadar!”

Aku langsung bangkit.

“Anakku?”

Dayang itu tersenyum bingung.

“Pangeran sedang bersama pengasuhnya, Yang Mulia.”

Aku menatap tanganku.

Kemudian menyentuh wajahku.

Aku hidup.

Bukan di alam baka.

Bukan di kehidupan setelah kematian.

Aku kembali ke masa lalu.

Beberapa hari sebelum semuanya berubah.

Pintu terbuka.

Kaisar masuk.

Wajah yang dulu paling kucintai.

Wajah yang terakhir kulihat sebelum kematianku.

Dia duduk di hadapanku.

“Aku ingin membicarakan sesuatu.”

Aku hampir tertawa.

Aku tahu apa yang akan dia katakan.

Aku sudah pernah mendengarnya.

“Aku jatuh cinta kepada seseorang.”

Aku menatapnya tenang.

Tidak menangis.

Tidak bertanya siapa.

Tidak memohon.

Aku hanya berkata,

“Penjual mie di depan istana?”

Kaisar membeku.

Untuk pertama kalinya, wajahnya terlihat sangat bingung.

“Bagaimana kau tahu?”

Aku tersenyum.

Karena kali ini aku sudah pernah menjadi janda mati.

Dan aku tidak berniat mengulang kematian yang sama.

“Aku tahu banyak hal, Yang Mulia.”

Aku berdiri.

“Termasuk bagaimana cerita ini berakhir

BAB 2 — KEMATIAN PALSU

Aku tidak menolak keinginan Kaisar.

Justru aku mengajukan sebuah syarat.

“Aku setuju Paduka menikahi perempuan penjual mie itu.”

Kaisar menatapku seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.

“Kau setuju?”

“Dengan satu syarat.”

Aku menatap putra kami yang saat ini baru berusia lima belas tahun.

Dia masih terlalu muda untuk menjadi Kaisar.

Tapi cukup dewasa untuk memahami apa yang sedang terjadi.

“Putra kita harus menj...

Baca selengkapnya →