Bukan Adik Angkat

Oleh: Indah Setiorini

Dewi sedang memeriksa deretan angka pada layar komputernya ketika sebuah kepala muncul dari balik pintu.

“Mbak.”

Dewi tidak langsung menoleh. Suara itu terlalu dikenalnya. Justru karena terlalu familier, otaknya membutuhkan beberapa detik untuk memproses kenyataan bahwa suara tersebut seharusnya tidak berada di kantornya pagi itu.

“Mbak Dewi.”

Jari Dewi berhenti di atas mouse. Perlahan, ia menoleh. Seorang laki-laki berdiri di ambang pintu dengan kemeja putih yang lengannya digulung sampai siku. Rambut hitamnya dipotong pendek dan rapi, meski beberapa helai jatuh menutupi dahi. Di bahunya tergantung sebuah tas ransel hitam. Laki-laki itu tersenyum tanpa dosa.

Dewi menatapnya lekat selama lima detik. “Satria?”

Senyum laki-laki itu semakin lebar. “Kaget?”

Dewi langsung berdiri dari kursinya. “Kamu ngapain di sini?”

“Kerja,” jawab Satria sambil berkedip polos.

“Kerja apa?”

“Kerja di sini.”

Dewi memicingkan mata, menatap adiknya itu lebih lama sebelum tangannya terulur mengambil ponsel.

Melihat itu, senyum Satria langsung luntur. “Mbak mau telepon siapa?”

“Ibumu.”

“Jangan.”

Dewi tidak peduli dan langsung mencari nama kontak bibinya. “Kamu datang ke kantorku, bilang kerja di sini, dan tidak memberitahuku sama sekali?”

“Aku kan mau kasih kejutan, Mbak.”

Gerakan jari Dewi terhenti. Ia menatap Satria dengan wajah datar. “Terakhir kali kamu mau memberi kejutan, satu kampung mengira kamu kabur ke luar negeri karena dikejar perempuan.”

“Aku memang ke luar negeri, dapat beasiswa!” protes Satria.

Tanpa bilang!” balas Dewi sengit. “Itu bukan pembelaan!”

Satria menghela napas pasrah. “Makanya, sekarang aku datang langsung.”

“Setelah dit...

Baca selengkapnya →