Tukang komidi putar itu lupa mematikan musiknya.
Lapangan sudah hampir kosong, tetapi lagu anak-anak masih keluar dari pengeras suara yang cempreng. Kuda-kudaan berputar membawa sandal sebelah, bungkus gulali, dan seorang bocah yang merunduk di lantai kereta. Ibunya berjongkok di luar pagar, memanggil sambil mengulurkan tangan.
Bocah itu tidak mau keluar. Setiap keretanya melewatiku, ia merapatkan tubuh ke bawah bangku.
“Buto, Bu,” katanya. “Itu buto.”
Ibunya buru-buru menyuruhnya diam.
Aku mengusap pipi dengan lengan jaket. Ada darah yang mulai lengket di dekat telinga. Angin kemarau mengangkat debu lapangan, membuat bagian yang basah terasa berpasir.
Di dekat kakiku, Harun bersandar pada roda gerobak cilok. Lengan kirinya didekap ke dada. Tangan kanannya meraba tanah, berusaha menjangkau pistol yang terlempar ke bawah gerobak.
“Sudahlah, Pak. Jauh.”
Ia tetap mencoba. Aku menginjak pergelangan tangannya, lalu menggeser pistol itu dengan ujung sepatu sampai masuk ke selokan.
Dari arah panggung dangdut terdengar dengung mikrofon. Penyanyinya masih berdiri di samping pemain organ, sebelah tangan memegang ujung rok. ...