Cahaya Munchen : Ketika Hidayah Menemukan Rumahnya

Oleh: Nour araa

München di bulan November adalah hamparan abu-abu. Langit yang rendah seolah menekan atap-atap gereja tua di Marienplatz, dan angin dari Pegunungan Alpen membawa hawa dingin yang tak kenal ampun. Bagi Fatia, dingin itu tidak hanya terasa di kulit, tapi terkadang menyusup ke hati.

​Sebagai mahasiswi S2 di Technical University of Munich (TUM), Fatia adalah sosok yang mencolok. Cadar hitamnya seringkali memicu bisikan di koridor kampus. Di negeri yang memuja kebebasan berekspresi, kain yang menutupi wajahnya justru dianggap sebagai bentuk keterbelakangan.

​"Fatia, apakah kau tidak merasa lel...

Baca selengkapnya →