Sore hari di gedung sekolah yang mulai sepi, terdengar suara patahan meja yang memecah keheningan dari arah gudang. Empat siswi berdiri mengelilingi seorang gadis yang terkapar. Darah mengalir dari pelipis gadis itu, menetes ke lantai, sementara meja yang membentur kepalanya kini retak di tengah—seolah ikut merasakan sakitnya. Sementara itu, keempat siswi yang merundungnya tertawa bahagia ketika melihat temannya sengsara.
“Idih, nang...