Cahaya Yang Menembus Darah

Oleh: Fiqih Tamir

Sore hari di gedung sekolah yang mulai sepi, terdengar suara patahan meja yang memecah keheningan dari arah gudang. Empat siswi berdiri mengelilingi seorang gadis yang terkapar. Darah mengalir dari pelipis gadis itu, menetes ke lantai, sementara meja yang membentur kepalanya kini retak di tengah—seolah ikut merasakan sakitnya. Sementara itu, keempat siswi yang merundungnya tertawa bahagia ketika melihat temannya sengsara.

“Idih, nangis. Cengeng banget,” ejek salah satu sambil menendang tubuh lemah itu.

Mereka tertawa, tanpa sadar bahwa seorang guru telah memergoki mereka dari ambang pintu.

“Sedang apa kalian?!” suara kera...

Baca selengkapnya →