Setiap kali kami makan ayam, ibu selalu melakukan hal yang sama. Tangannya yang paling cepat bergerak mengambil bagian kaki, sayap, atau leher. Bagian-bagian yang minim daging, penuh tulang, dan sering dianggap remeh.
“Ceker buat ibu,” katanya ringan, sambil tersenyum. Ia membolak-balik lauk dengan sendok mencari bagiannya.
Ia mengunyah, rahangnya tampak bekerja keras. “Enak sekali, bumbunya sangat terasa,” katanya.
Aku dan adikku tak perna...