Cerewetnya Nenek

Oleh: Sendang Ayuningrum

Matahari perlahan terbit dari ufuk timur, burung-burung berkicauan, dan udara pagi terasa segar. Tapi bagiku, tanda pagi yang sesungguhnya bukanlah sinar matahari. Tanda pagi dimulai ketika suara nenek terdengar dari dapur sambil mengetuk pintu kayu dekat warung kelontong kecil kami.

“Sarapan dulu! Jangan pergi sekolah kalau perutmu belum keisi,” ujar nenek sembari membereskan warung kelontong yang tengah dibuka.

Suara itu seperti alarm alami saja, dan sayangnya alarm itu tidak bisa di-snooze. Kadang aku sampai berpikir, apakah nenek ini memiliki sensor deteksi untuk cucunya yang belum sarapan. Bahkan sekali waktu aku mencoba untuk berangkat perlahan, tetap saja suara nenek muncul dari balik pintu, namun untung saja saat itu aku berhasil kabur dari ocehan paginya itu.

Sejujurnya, dulu aku sering merasa bahwa cerewetnya nene...

Baca selengkapnya →