Cerita Lula

Oleh: T. Filla

Lula berjalan menelusuri ruangan kerjanya dengan semangat yang sama, seperti hari-hari sebelumnya. Langkah kakinya tegak, senyum lepas, menyapa siapa saja yang berpapasan dengannya, matanya memandang penuh percaya diri. Dia tetap bahagia bekerja sebagai honorer, walaupun pikirannya dipenuhi pertanyaan, kapan dia bisa menjadi bagian dari kantor ini sebagai aparatur yang sah. Memiliki hak yang sama seperti rekan kerja lainnya.

Honorer seperti dirinya, juga seperti temannya yang lain. Pasti tidak akan banyak menuntut. Rela mengerjakan apa saja yang didelegasikan. Patuh jika harus bekerja diluar jam kantor. Tidak boleh menolak, karena penolakan adalah pembangkangan. “Kita sebagai honorer. Masih anak bawang. Jangan banyak maunya. Yang penting patuh dan perlihatkan kalau kita loyal dan rajin.” Kata-kata itu sudah menjadi wejangan dan kalima...

Baca selengkapnya →