Chaebol x Chaebol

Oleh: Willia Mangun Putr

BAB 1 — HAN SEO-YEON

Namaku Han Seo-yeon.

Aku adalah putri kedua keluarga Han, keluarga yang namanya mungkin lebih dikenal daripada wajahku sendiri.

Ayah sering bilang aku anak yang rebel.

Berbeda dengan kakakku, Han Jenna.

“Lihat kakakmu. Jenna tidak pernah membuat Ayah pusing.”

Kalimat itu sudah terlalu sering kudengar sejak kecil.

Jenna adalah putri yang sempurna.

Dia pandai memainkan piano, tahu bagaimana berpakaian untuk sebuah acara keluarga, menyukai gaun-gaun mahal, mengerti etiket makan malam formal, dan bisa tersenyum selama berjam-jam ketika harus menghadiri acara bersama para pemegang saham.

Aku?

Aku bahkan tidak tahan duduk selama sepuluh menit di depan piano.

Aku tidak suka warna pink.

Aku tidak suka pesta yang terlalu glamour.

Aku tidak suka memakai berlian hanya karena seseorang mengatakan seorang putri chaebol seharusnya memakai berlian.

Dan aku paling tidak suka ketika seseorang mengatakan kepadaku bagaimana seharusnya seorang perempuan dari keluarga Han menjalani hidupnya.

Ayah pernah bertanya, “Apa yang sebenarnya kamu sukai?”

Aku menjawab jujur.

“Penelitian.”

Dia menghela napas.

“Selain itu?”

“Buku.”

Ayah menatapku seolah aku baru saja mengatakan ingin menjadi astronot.

“Selain itu?”

“Volunteer.”

Dia akhirnya menyerah.

Mungkin bagi Ayah, ketiga hal itu sama sekali tidak berguna untuk seorang pewaris keluarga Han.

Tapi aku tidak peduli.

Hari-hariku lebih banyak kuhabiskan di laboratorium daripada di ballroom hotel milik keluargaku.

Aku bisa menghabiskan berjam-jam membaca jurnal penelitian sampai lupa waktu.

Aku bisa menghabiskan akhir pekan menjadi relawan di pusat pendidikan anak.

Dan aku lebih bahagia membeli buku bekas daripada tas keluaran terbaru yang harganya bisa membeli sebuah apartemen kecil.

Ironisnya, aku tetap tinggal di rumah yang memiliki tiga ruang ganti, lift pribadi, dan seorang kepala pelayan.

Aku adalah chaebol.

Aku tidak pernah menyangkalnya.

Aku hanya tidak ingin kekayaan keluargaku menentukan siapa diriku.

Namun malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku sadar bahwa mungkin ada satu hal yang tidak bisa kutolak.

Kehendak keluarga.

Aku baru saja pulang dari kampus ketika Ayah memanggilku ke ruang kerjanya.

Aku masuk sambil masih membawa dua buku dan sebuah map penelitian.

“Ayah memanggilku?”

Ayah duduk di balik meja besar.

Di sampingnya ada Ibu.

Dan Jenna.

Aku langsung curiga.

Kalau mereka bertiga sudah duduk seperti itu, biasanya tidak ada kabar baik.

Aku meletakkan buku di meja.

“Ada apa?”

Ayah menatapku cukup lama sebelum akhirnya berkata,

“Seo-yeon, kamu akan menikah.”

Aku terdiam.

Bahkan untuk beberapa detik, otakku tidak mampu memproses kalimat itu.

Kemudian aku tertawa kecil.

“Dengan siapa?”

Ayah tidak tertawa.

“Dengan pewaris keluarga Kang.”

Senyumku menghilang.

Aku menatap Ayah.

“Keluarga Kang… Kang Group?”

Ayah mengangguk.

Aku bersandar di kursi.

Jadi begini.

Setelah bertahun-tahun aku berusaha hidup sebagai diriku sendiri, akhirnya keluarga Han menemukan satu hal yang bahkan tidak bisa kuhindari.

Sebuah pernikahan.

Dan yang lebih buruk—

calon suamiku bukan orang biasa.

Dia juga chaebol.

Aku menatap Ayah tidak percaya.

“Dinikahkan?”

Aku menunjuk diriku sendiri.

“Kenapa aku?”

Lalu aku menoleh kepada Jenna.

“Kenapa bukan Jenna?”

Jenna langsung mengangkat alis.

“Seo-yeon.”

“Apa?”

“Jangan mulai.”

“Aku bahkan belum mulai.”

Aku kembali menatap Ayah.

“Jenna lebih cocok. Dia suka piano, suka acara keluarga, suka gaun, suka semua hal yang menurut Ayah penting bagi seorang putri chaebol.”

Jenna menyilangkan tangan.

“Terima kasih sudah menjadikanku barang pajangan keluarga.”

“Aku sedang membelamu.”

“Caramu membela sangat menyebalkan.”

Aku menghela napas.

Aku tidak habis pikir.

Dari sekian banyak orang di keluarga Han, kenapa aku?

Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara menghadiri makan malam formal tanpa berharap seseorang menumpahkan sup ke bajunya sendiri agar acara itu cepat selesai.

Ayah memijat pelipis.

“Seo-yeon, ini bukan sesuatu yang bisa kamu tolak begitu saja.”

“Tentu saja bisa.”

“Tidak.”

“Bisa.”

“Tidak.”

Aku terdiam.

Kemudian tersenyum tipis.

Baiklah.

Kalau begitu, kita bermain dengan cara lain.

Aku menyandarkan tubuh ke kursi dan berkata dalam bahasa Prancis.

“Les riches ne connaissent qu'une seule langue, ce qui est ridicule.”

Ruangan langsung hening.

Ayah menatapku.

“Apa?”

Aku mengambil buku penelitianku dari meja.

“Tidak ada.”

Jenna memicingkan mata.

“Kamu baru saja menghina kita, kan?”

Aku tersenyum polos.

“...

Baca selengkapnya →