Cinta Abadi

Oleh: Dimas Hendra

Nia menolak Yudi pada hari Jumat.

Tidak ada pertengkaran hebat atau kata-kata kasar yang melayang di udara. Nia hanya duduk di bangku taman kampus sambil memegang gelas kopi kertasnya yang mulai dingin, lalu berkata pelan, “Maaf, Yud. Aku menganggapmu teman.”

Kalimat itu sederhana. Terlalu sederhana untuk menghancurkan seorang manusia.

Yudi berusaha tersenyum, meski dadanya terasa terhantam beban amat berat. “Tidak apa-apa,” jawabnya seraya ...

Baca selengkapnya →