Kami bertemu di suatu senja yang gerimis. Pada sebuah kafe di sudut Jakarta. Kami sama-sama menyukai kopi dan kami mengibaratkan diri seperti kopi dan gula. Dia dengan kulit gelapnya dan segurat senyum manisnya duduk menyeberangiku.
"Aku kan berkulit gelap, jadi aku adalah kopi bagimu," katanya dengan tatapan jenaka.
Aku membalas senyumnya, "Ya, tapi kamu jadi terlihat manis karena aku adalah gula bagimu."
Senyumnya kian rekah. Aku suka.
"Kamu tahu, ...