Cinta Datang Terlambat

Oleh: Bramanditya

Gea memandangi kotak cincin di tangannya.

Kotak kecil berlapis kain beludru merah hati itu terasa jauh lebih berat dari ukurannya. Di dalamnya tersimpan sebuah cincin perak dengan batu kristal putih yang memantulkan cahaya lampu kafe secara halus. Sudah hampir dua puluh menit ia menatap kotak itu tanpa sekali pun membukanya, seolah ribuan pertanyaan bertumpuk di kepalanya dan menjelma keraguan yang menahan jari-jarinya.

Tiba-tiba seseorang merampas kotak itu dari tangannya.

“Gea, Nico melamar kamu?” Mira berteriak tertahan, terkejut sekaligus antusias. Ia langsung membuka kotak cincin itu.

“Serius, Ge?” Romi menyusul duduk di depan Gea, mencondongkan tubuhnya untuk melihat lebih dekat.

“Gila, bagus banget,” gumam Mira, matanya berbinar. Belum sempat ia mengagumi lebih lama, Romi merebut cincin itu dari tangannya.

“N.G.” Romi mengeja huruf yang terukir di bagian dalam cincin.

Mira langsung menatap Gea. “Kapan Nico melamar kamu?”

Gea membalas tatapan itu dengan senyum tipis yang dipaksakan. “Belum.”

Wajah Romi dan Mira berubah serempak.

“Maksudnya… Nico belum melamar kamu?” tanya Romi hati-hati.

Gea mengangguk.

“Terus, cincin ini apa?” Mira memasukkan kembali cincin itu ke dalam kotaknya dan meletakkannya di atas meja.

Gea menyesap sedikit kopi susu cokelat hangat di depannya, lalu meletakkannya kembali, nyaris tanpa menikmati rasanya.

“Nico belum melamarku,” katanya pelan. “Sebulan lalu, aku melihat kotak cincin itu di dalam lemari pakaiannya. Di apartemennya.”

Ia berhenti sejenak, menarik napas dalam, menata emosinya agar tidak runtuh di hadapan kedua sahabatnya.

“Sehari, seminggu, sebulan… aku menunggu,” lanjutnya. “Aku menunggu kejutan. Aku membayangkan dia berlutut di depanku, di tempat yang romantis, lalu berkata will you marry me?”

Gea menunjuk kotak cincin di atas meja.

“Tapi kejutan itu t...

Baca selengkapnya →