CINTA DI ATAS OJEK

Oleh: Amrullah Ibrahim

1. Lelaki di Balik Helm Hijau

Hujan baru saja reda ketika Rayyan mengendarai sepeda motornya menyusuri jalan protokol yang membelah pusat kota. Aspal masih basah, memantulkan cahaya lampu gedung-gedung tinggi yang berdiri megah di kiri dan kanan jalan.

Di antara deretan mobil mewah yang terjebak kemacetan, Rayyan tampak sederhana. Jaket ojek berwarna hijau, celana jeans yang sedikit pudar, dan helm hitam yang sudah beberapa kali tergores. Sepeda motornya pun bukan keluaran terbaru. Namun, meskipun penampilannya seperti pemuda biasa, wajah Rayyan menyimpan ketenangan yang sulit dijelaskan.

Ia berusia dua puluh delapan tahun. Tampan, berkulit bersih, dengan sorot mata teduh dan senyum yang selalu membuat penumpangnya merasa nyaman.

Bagi orang-orang di jalan, Rayyan hanyalah tukang ojek yang sedang mencari rezeki.

Namun, tidak seorang pun tahu bahwa pemuda itu sebenarnya adalah putra tunggal keluarga Adinata, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.

Ayahnya, Haji Rasyid Adinata, memiliki perusahaan properti, jaringan hotel, pusat perbelanjaan, dan sejumlah perusahaan investasi yang tersebar di berbagai kota.

Rayyan bisa saja mengendarai mobil sport, tinggal di penthouse, dan menghabiskan waktu di restoran mewah. Tetapi sejak enam bulan terakhir, ia justru memilih tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana di pinggiran kota.

Ia meninggalkan semua fasilitas keluarganya.

Bukan karena membenci kekayaan.

Melainkan karena ia ingin menemukan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Cinta sejati.

“Kalau semua perempuan hanya melihat nama keluarga, bagaimana aku bisa tahu siapa yang benar-benar mencintaiku?” gumam Rayyan suatu malam, ketika duduk bersama ayahnya di ruang keluarga.

Haji Rasyid menatap putranya dengan wajah penuh kekhawatiran.

“Rayyan, Ayah tidak pernah memaksamu menikah dengan siapa pun.”

“Tapi semua orang yang datang ke rumah kita tahu siapa aku, Yah.”

“Lalu?”

“Mereka mengenal kekayaan kita sebelum mengena...

Baca selengkapnya →