Cinta Tumbuh Dari Dompet

Oleh: Dara Kirana

Matahari siang terasa menyengat di kulit gadis yang sedang berjalan menyusuri trotoar. Matanya menyipit menahan silau.

Sebuah tas kecil menempel di punggungnya, sementara amplop cokelat di tangan ia gunakan sebagai pelindung seadanya agar wajahnya tidak langsung terkena terik matahari.

Tata, gadis fresh graduate yang beberapa hari terakhir mondar-mandir mencari pekerjaan. Sudah seminggu ia keluar masuk perusahaan untuk mengantarkan surat lamaran, tetapi belum satu pun yang memberikan kabar. Jangankan diterima bekerja, panggilan wawancara pun belum pernah datang.

Tata menghela napas panjang. "Susah amat nyari kerjaan, Tuhan …,” keluhnya.

Ia mendongak ke langit yang sama sekali tidak tampak iba pada penderitaannya. "Padahal nggak minta jadi direktur. Jadi karyawan biasa aja susah amat!"

Tata menggerutu sambil terus melangkah. Sesekali ia menendang kerikil kecil yang ada di trotoar. 

"Ya Tuhan … kalau gini terus, mending kirimin aku jodoh aja," gumam Tata.

Ia melangkah pelan sambil mengipas wajah dengan amplop cokelat di tangannya. "Biar nggak usah susah-susah kerja."

Beberapa detik kemudian, ia menambahkan cepat, sesuatu dalam yang menurutnya sangat penting. 

"Tapi yang kaya ya, Tuhan." Tata mendongak ke langit lalu menyeka keringat yang mengalir di pelipis. 

Mata Tata melirik ke arah minimarket yang berada tidak jauh di depannya. Ia berpikir betapa menyejukkannya jika masuk ke sana untuk mendinginkan badan, membeli minuman dingin, lalu berputar mengelilingi rak-rak sambil pura-pura mencari sesuatu. Biar tidak kelihatan niat sebenarnya.

Kaki Tata terayun semakin cepat menuju minimarket. Namun, saat hampir sampai, ia berpapasan dengan seorang pria yang baru saja keluar dari sana sambil membawa minuman di tang...

Baca selengkapnya →