Matahari telah menelan hampir seluruh bayangan. Teriknya membakar ubun-ubun kepala, hingga peluh mengalir di pelipis.
"Sebentar lagi zuhur," batinku.
Aku melangkah menuju langgar (sebutan orang Jawa untuk mushalla) kecil di sudut stasiun kota Jember. Setelah menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim, aku bersandar di tiang langgar sambil menunggu kereta yang baru akan berangkat pukul tiga sore. Entah karena lelah perjalanan atau karena semilir an...