DEMI SEPENGGAL MASA LALU

Oleh: Raha Kurnia

Memasuki kembali ruangan ganti sesuai pertunjukkan, membuat gadis itu melongo. Rasanya belum lama dia meninggalkan ruangan itu, kini di depannya segalanya telah berubah. Ruangan itu begitu semarak. Penuh bunga dari berbagai jenis. Benar-benar penuh warna.

Dia tertegun. Dihampirinya buket bunga di meja rias, agak ke samping, di bawah cermin. Anyelir! Anyelir merah yang masih kuncup!

Tuhan, bagaimana mungkin...?? desisnya tanpa suara, dengan bibir bergetar. Sesuatu dari masa lampau seperti memaksa keluar dan menyentuh gadis itu. Dia tergugu. Merasa kesulitan mengatur detak jantungnya yang tiba-tiba berpacu.

Dia datang! Mungkin duduk di antara penonton tadi, menyaksikan tarian kami. Setelah sekian lama, akhirnya dia kembali muncul. Untuk melihatku?

Disentuhnya kelopak bunga itu sepenuh rasa. Tangannya yang halus, menarik lepas kartu kecil yang terselip pada rangkaian itu.

“Maria!”

Mendadak, pintu terbuka. Sesosok gadis menghambur masuk.

“Maria, itu hebat sekali! Encore tadi luar biasa!” seruny...

Baca selengkapnya →