Hujan turun menderas sore itu, menghantam atap seng tua di sudut kota dengan irama yang riuh namun entah mengapa terdengar menenangkan. Di balik kaca jendela sebuah kedai kopi bergaya vintage bernama "Kala", Senja duduk termenung. Jari-jarinya yang ramping sesekali mengetuk pelan cangkir keramik putih berisi cappuccino yang buihnya mulai menipis, membiarkan uap panasnya menguar tipis ke udara yang dingin. Kedai itu tidak terlalu ramai, hanya ada ...