Di Antara Dua Deru Ombak

Oleh: Ratu Aisyah Noelle

Kenangan tentang Jawa masih melekat seperti jelaga dingin yang enggan dibilas, menempel tebal pada dinding dada dan kelopak mata. Di sebuah ruang konsultasi beraroma karbol dan antiseptik murah di Surabaya, dindingnya yang dicat krem mengupas tipis di sudut plafon, membiarkan bercak kelembapan membayang seperti peta wilayah yang terlupakan. Naya ingat betul jemari tangan psikiater yang mengetuk-ngetuk meja kayu berlapis kaca tipis sebelum menyerahkan selembar kertas resep dengan tulisan cakar ayam yang tajam: F32.3 — Depresi Berat dengan Gejala Psikotik.

Di luar ruangan yang berdengung oleh pendingin udara tua itu, dunia lamanya telah hancur menjadi serpihan tajam yang tak mungkin dirangkai kembali. Sprei rumah tangga yang tercoreng pengkhianatan dingin, keputusan mantan suaminya yang memilih pergi meninggalkan pernikahan mereka demi seorang wanita lain yang jauh lebih muda, serta kehilangan besar yang merenggut calon bayinya sendiri—gugur dalam perdarahan sunyi sebelum sempat menghirup udara pertama. Usia tiga puluh lima tahun mendadak terasa seperti jembatan lapuk yang patah di tengah arus deras, melemparkannya tepat ke titik nol tanpa penopang.

Pelarian ke Bali tidak serta-merta menghapus jelaga tersebut. Ia hanya memindahkan tubuhnya yang letih ke bawah terik matahari pesisir yang lebih menyengat, di mana angin laut yang bergaram tak pernah cukup dingin untuk menyejukkan kepalanya yang bising.

Siang itu, di bawah naungan atap genting dan lantai semen sebuah Banjar di kawasan Sanur, udara terasa membal oleh kelembapan laut dan aroma dupa yang terbakar pelan di atas canang sari. Banjar tengah menggelar penyuluhan dan penanganan rabies gratis untuk warga sekitar. Naya duduk di barisan paling belakang, mengambil sudut paling gelap di dekat tiang semen yang bertekstur kasar. Tas kain kanvas kusam yang dipangkunya terasa berat, bukan oleh tumpukan buku catatan atau draf naskah yang biasa ia tulis, melainkan oleh empat botol plastik kecil berisi pil-pil penawar duka dari RSJ di Jawa.

Naya merogoh bagian dalam tasnya, menarik botol-botol itu tanpa suara. Jemarinya yang kurus meraba permukaan bening plastik, lalu mengeluarkan empat butir pil dengan warna, ukuran, dan tekstur yang berbeda. Tanpa bantuan air, ia membenamkan pil-pil itu ke dalam mulutnya, memaksa tenggorokannya menelan semuanya sekaligus—sebuah ritual harian yang lebih menyerupai hukuman ketimbang pengobatan.

Sensasi itu selalu dimulai sekitar lima belas menit kemudian.

Mula-mula, fluoxetine dan risperidone bekerja bagai tukang batu yang membangun dinding kaca tebal berdinding ganda di dalam rongga dadanya. Keduanya bertugas memblokir dan membendung bisikan-bisikan asing, lolongan penyesalan, serta tangis bayi imajiner yang kerap bergema di kepalanya saat malam berubah hening. Lalu hexymer mengalir menelusuri serat sarafnya, perlahan mengendurkan kekakuan pada otot leher, bahu, dan jemarinya yang kerap menegang serta gemetar tanpa sebab akibat efek samping medis. Terakhir, alprazolam meluncur tu...

Baca selengkapnya →