Hujan turun sejak subuh, mengetuk jendela kamar kos yang sempit. Kota ini selalu pandai membuat seseorang merasa sendirian—terutama ketika harapan runtuh dan masa depan terasa buram. Aku duduk di tepi ranjang, menatap ponsel yang tak kunjung berbunyi. Tidak ada pesan. Tidak ada kabar baik. Hanya sunyi yang menetap di dada.
Tiga hari lalu, aku pulang dari tempat yang selama ini kusebut jalan masa depan. Surat pemutusan hubungan kerja itu masih tersimpan rapi di tas, kubaca berulang kali, seolah berharap huruf-hurufnya berubah. Namun kenyataan tak pernah berubah ...