Lampu jalanan mulai menyala, memantulkan cahaya pucat pada genangan air sisa hujan sore tadi. Bagi Karina, cahaya itu bukan penanda pulang, melainkan tanda bahwa "jam kantor"-nya dimulai. Di sebuah kamar kos sempit dengan baunya bercampur antara bedak murah dan kecoak mati, ia mematut diri di depan cermin retak.
Ia mengenakan gaun merah berbahan poliester yang ketat—warna yang ia benci, tapi warna yang paling disukai "pasar".
Tiga bulan lalu, Karina adalah seorang manajer di sebuah perusahaan Tekstil. Gajinya cukup besar, bahkan bisa untuk membiayai seluruh keluarganya di kampung. Tapi tiba-tiba dia dipecat tanpa alasan yang jelas, t...