Lantunan azan Isya berkumandang. Semua santri berbondong-bondong menuju masjid dengan mengenakan baju koko dan sarung yang rapi. Santri-santri kecil berlarian agar tidak ketinggalan menuju masjid.
Setelah azan selesai, lantunan selawat pujian menggema sambil menunggu jamaah lain datang, sekaligus menjalankan salat sunah. Sekitar lima menit kemudian, iqamah dikumandangkan dan salat Isya berjamaah segera dilaksanakan. Aku menempati saf kedua di belakang imam. Dengan merapatkan barisan, salat pun segera kami mulai.
Imam memimpin salat dengan khusyuk, bacaannya merdu dan jelas. Dia adalah senior kami semua, Mas Ilham. Usianya sudah hampir tiga puluh tahun. Tahun lalu dia menikah dengan seorang gadis biasa yang bukan santriwati. Sebenarnya dia sudah tidak menimba ilmu di pesantren ini, tetapi karena rumahnya dekat, pengurus pesantren memintanya untuk mengajar di pesantren. Meskipun Mas Ilham sendiri adalah guru SMP yang sudah diangkat menjadi PNS, ia bersedia menerimanya.
Mas Ilham masih sering mengunjungi kami sebagai adik kelasnya. Ia ikut bergabung dan bercerita meskipun hanya sebentar. Dia sosok yang bijak, berwibawa, dan humoris. Namun, dia juga serius dan tegas. Tidak heran jika hampir semua orang segan kepadanya. Tak terasa salat telah selesai, dilanjutkan dengan doa dan zikir yang juga dipimpin oleh Mas Ilham.
Setelah selesai, satu per satu jamaah keluar dari masjid. Sedangkan aku dan b...