“Kita putus, ya!”
Satu ucapan emosional dariku yang berhasil membuat Haris menatap kebingungan.
“Kenapa?” Tanyanya sambil berusaha mendekatkan dirinya padaku. Tangannya menggenggamku lebih erat dari sebelumnya, seolah menekankan pentingnya kalimat yang baru saja aku layangkan.
“Udah waktunya kita putus.” Kataku datar.
“Waktu apa?” Raut mukanya sangat jelas menunjukkan ketidakterimaan, “bahkan kita nggak punya masalah sebelumnya.”
“Tapi aku punya.” Satu kalimat singkat yang berhasil membuat kami berdua terdiam, saling menelaah satu sama lain.
Agaknya Haris mulai paham apa yang ingin aku sampaikan. Sesuatu yang sebelumnya pernah kami bahas dan tidak ada jalan keluar apapun selain menunggu waktu menyelesaikannya. Tapi aku sudah cukup lelah dengan kepura-puraan ini. Menjalin hubungan di kondisi hidup yang tidak idea...