Aroma tanah basah itu datang lagi malam ini. Bukan dari sawah, bukan dari jerami yang terbakar pelan di ujung ladang seperti dulu—melainkan dari sisa hujan yang menguap di sela-sela aspal retak di depan kontrakanku. Tipis, nyaris tak terasa. Tapi cukup untuk merobek sesuatu di dalam dadaku. Aku berhenti sejenak di depan pintu. Menghirupnya dalam-dalam. Dan seperti biasa, ingatan itu menyeretku pulang… ke masa di mana hidup belum terasa sekeras ini. Dulu, duniaku s...