Diantara Luka dan Waktu

Oleh: Bintang Citra Maharani

Nara tahu bedanya.

Ada kepergian yang berisik, dan ada yang terlalu rapi untuk kebetulan.

Cangkir kopi Arzhie masih di sudut meja, setengah penuh, sudah dingin. Laptopnya tertutup, rapi seperti ditinggalkan sebentar—padahal Nara tahu, Arzhie tidak pernah menutup sesuatu kalau belum selesai. Ia selalu bilang, menutup terlalu cepat sama saja dengan mengubur niat.

Nara berdiri di balik meja bar. Tangannya mengotak atik gunting.

Tidak ada panik. Belum. Yang datang l...

Baca selengkapnya →