Jarum jam dinding di sudut kamar menunjuk tepat ke angka sebelas. Suasana malam terasa makin hening, menyisakan derak halus kipas angin yang berputar konstan dan ketikan pelan dari jemariku di atas papan ketik laptop. Di luar, kota sudah tertidur lelap, tetapi panggung di dalam kepalaku justru baru saja memulai pertunjukannya. Aku masih terjaga, memandangi pantulan bayanganku sendiri di kaca jendela yang gelap.
Nama aku Gerax. Saat ini, aku duduk ...