Kereta terakhir berhenti dengan suara yang pelan, menyisakan desis uap yang berbaur dengan udara sore kota kecil itu. Rama melangkah turun ke peron yang sepi, sambil menggenggam erat secarik surat yang sudah mulai menguning di sudut-sudutnya. Surat itu ditulis lima belas tahun lalu dengan tinta biru yang mulai pudar, menampilkan tulisan tangan yang masih miring dan berantakan khas anak-anak.
“Kalau kita sudah dewasa, ketemu lagi di bawah pohon flamboyan dekat danau. Janji ya?” Di bagian bawah kertas, tertera sebuah tanda tangan kecil dengan hiasan gambar bunga matah...