Immanuel berdiri di depan gedung sebuah pengadilan negeri. Ia mengenakan kemeja putihnya yang setengah kusut. Ada map cokelat di tangan kirinya seperti tidak pernah lepas sedari pagi. Ia mengusap keringat dari pelipisnya, menatap kerumunan wartawan yang masih bertahan di seberang pagar. Mereka menanti, seolah drama hukum adalah tontonan yang tak boleh terlewat setetes pun.
Di balik kacamatanya, mata Immanuel menyimpan lelah. Lelah ini bukan sekadar karena pekerjaan, tapi karena dunia ini, negeri ini, membuatnya te...