Dinding Mana Yang Punya Telinga

Oleh: T. Filla

Jam kerja berakhir tepat pukul enam belas sore. Adzan ashar yang saban hari berkumandang telah berlalu, sepuluh menit sebelum jam pulang kantor. Sang bhaskara, yang dari tadi garang menyuar buana, mulai condong, merangkak, ke barat. Singgasana terakhirnya. Hawa panas yang semula, menyengat, membakar kulit, perlahan lahan  menjadi sejuk. Kabut tipis putih, yang menyelimuti cakrawala, lama-lama berubah, seperti cahaya keemasan, yang membayangi birunya langit senja, kala itu. 

Ayunan langkah kaki Herlina, menuju tempat pulangnya, nampak gontai. Tidak bersemangat. Apakah dia enggan untuk pulang? Ini bukan Herlina yang biasanya. Sudah tiga hari ini, dia nampak kurang bersemangat. Tepatnya...

Baca selengkapnya →