Betapa meriahnya suasana perhelatan anak nagari, yang diselenggarakan sekali lima tahun itu. Segala Kemeriahan itu terasa dimana saja, di bumi Pesisir Utara Sumatera barat ini, di pijak. Riuh, hangat, dan sesekali mencekam juga, kalau kita pergi ke warung kopi, dan perdebatan sedang memanas, lebih panas dari kopi setengah porsi yang dipesan bapak-bapak yang duduk disana. Begitu juga dengan di sungai tempat ibu-ibu mencuci pakaian. Di dalam angkutan umum, dalam maupun antar kota. Suara mereka akan menggema, mengaum, mendengung, ketika beradu argumen, untuk membela, menjatuhkan, masing calon pemimpin daerah jagoan, dan pilihan jagoan lawan.
Santi. Seorang kemenakan bakal calon bupati di tanah pesisir utara provinsi Sumatera Barat, tengah menghadapi masa sibuk, menjadi tim sukses, pemenangan mamaknya.
“Kalau mamak mu menang besok ni Santi, jadi bupati di Pesisir Utara ini. Kamu akan jadi sespri mak tangah mu.” Kata andeh Alimah, istri mamaknya.
“Iya itu ndeh?”
“Kalau bukan kamu siapa lagi? Kamu anak Andeh yang palin besar, semen...