Di sebuah desa terpencil yang tenang, Nenek Minah teguh menjaga resep dodol keramunting warisan leluhurnya di atas kuali tembaga kuno. Bersamanya, sang cucu semata wayang—Cik Dara, gadis cantik alami berotak cerdas lulusan teknologi pangan—dengan telaten memetik buah keramunting liar di perbukitan berpasir putih dan mengolah sarinya berjam-jam di depan bara api.
Hingga suatu senja, sebuah mobil jip tua mogok di kelokan jalan berdebu merah. Adrian, seorang arsitek muda rupawan dari hiruk-pikuk ibu kota yang sedang berlibur mencari ketenangan, terpikat oleh semerbak wangi manis di udara desa. Sebutir dodol legit berwarna ungu lembayung membuka perjumpaan yang mengubah segalanya, menumbuhkan rasa kagum mendalam dan benih cinta sejati.
°˖✧✿✧˖°
Di balik kabut pagi Desa Parit Belukar, sebuah pusaka rasa dijaga dengan setia.
Kabut tipis masih enggan beranjak dari pucuk-pucuk pohon gelam ketika cerobong bata di belakang rumah panggung kayu ulin itu mulai mengembuskan asap kelabu. Udara pagi di Desa Parit Belukar, sebuah perkampungan terpencil di ujung pesisir yang dipagari rawa gambut dan perbukitan berpasir putih, selalu berbau embun dingin yang berbaur dengan getah kayu basah. Namun, bagi siapa saja yang melintasi jalan setapak berpasir kuarsa di tepi desa, ada satu aroma lain yang segera menaklukkan hidung: wangi legit manis yang gurih, berpadu dengan keharuman rempah tersembunyi dan harum daun pandan wangi yang dibakar perlahan.
Itu adalah aroma dari dapur Nenek Minah.
Di usianya yang telah melampaui tujuh puluh musim kemarau, tubuh Nenek Minah masih setegak tiang serambi. Punggungnya tidak membungkuk oleh beban masa lalu, dan matanya yang teduh masih memancarkan ketajaman seorang penjaga rahasia tua. Pagi itu, seperti puluhan tahun sebelumnya, ia telah mengenakan kain sarung songket usang bermotif pucuk rebung dan baju kurung kedah berwarna nila pudar. Kedua tangannya yang berurat kokoh tengah memilah kayu bakar dari ranting pohon pelawan dan kayu karet tua yang telah dikeringkan selama berbulan-bulan di bawah kolong rumah.
"Kayu pelawan untuk api pertama, Dara," ujar Nenek Minah pelan, suaranya tenang serupa gemericik anak sungai di musim teduh. "Kayu karet untuk memelihara bara, agar panasnya merata dan tidak membakar dasar kuali. Kalau kau gegabah menyalakan api besar dari kayu randu, hanguslah adonanmu sebelum minyak santan sempat keluar mencium sari keramunting."
Di hadapannya, bertengger sebuah kuali tembaga raksasa berdiameter hampir satu meter. Kuali itu bukan sembarang wadah masak yang bisa dibeli di pasar pekan kecamatan. Pinggirannya ditempa tebal dengan ukiran sulur pakis yang telah mengh...