Donor Ingatan dari Pasien Kamar 404

Oleh: Prasetya Catur Nugraha

"Buka matamu, Naufal. Pelan-pelan saja."

Cahaya lampu neon di atap ruangan menusuk pupil mataku seperti ribuan jarum perak. Aku mengerang, merasakan denyut tajam di belakang tempurung kepala. Bau antiseptik yang menyengat memenuhi rongga hidungku.

"Di mana... ini?" suaraku parau, nyaris tak terdengar.

"Klinik Re-Memoria. Operasimu sukses," suara itu milik Dokter Aris. Ia berdiri di samping tempat tidurku, memegang sebuah tablet transparan yang meman...

Baca selengkapnya →