Dua Abah dan Dua Anak Perempuanya dari Pantura dan Parahyangan

Oleh: Silvarani

"Anak perempuan saya harus pulang, Pak."

Kalimat itu datang pada pukul sembilan pagi, ketika Jakarta baru selesai menghirup kemacetan pertamanya. Dari jendela kantor di lantai lima, deretan atap seng berkilau diterpa matahari. Gedung-gedung tinggi berdiri jauh di belakangnya seperti orang-orang kaya yang terlalu sibuk untuk memperhatikan kesedihan orang lain.

Lelaki yang mengucapkannya datang dari Pantura.

Kulitnya legam. Kerutan di dahinya membentuk garis-garis panjang seperti jalan yang telah terlalu sering dilalui kendaraan berat. Kemeja kotak-kotak yang dikenaka...

Baca selengkapnya →