Dua Cepat, Satu Lambat

Oleh: Bobby Mahmud

Sudah lima belas tahun aku duduk di bangku yang sama, di ujung Taman Cempaka, setiap sore setelah Ashar.

Bangkunya tua. Catnya hijau yang sudah pudar, dan satu kakinya sedikit goyang. Petugas taman beberapa kali menawarkan untuk menggantinya dengan yang baru, dan beberapa kali pula aku menolak. Tidak ada yang tahu alasannya. Aku tidak pernah menjelaskan.

Rutinitasku tidak berubah selama itu. Selesai mengajar anak-anak di surau seberang taman, aku m...

Baca selengkapnya →