Dua Peron, Satu Lambaian

Oleh: Dhian Jatu Puspitadewi

 Kereta di Kyoto sore itu penuh, bukan sekadar ramai, tapi padat dengan cara yang membuat semua orang memilih diam. Orang-orang berdiri rapat tanpa banyak suara, sebagian terpaku pada layar ponsel, sebagian lagi memejamkan mata, seolah sedang mencuri sedikit waktu untuk beristirahat di sela hari yang terasa panjang.

Aku, yang saat itu sedang solo traveling, berdiri terlalu dekat dengan pintu. Bukan karena ingin cepat turun, tapi lebih karena tida...

Baca selengkapnya →