Reyhan hanya bisa menundukkan kepalanya dan tak mampu berkata apa-apa saat ayahnya memarahinya sore itu. Hampir saja ia menangis karena suara lantang ayahnya yang membuatnya begitu ketakutan. Kedua bola mata ayahnya terus melotot padanya yang masih tertunduk itu. Tubuh Reyhan menjadi semakin gemetar saja.
Sang ayah terus memarahi Reyhan tanpa berhenti. Nada suaranya semakin tinggi. Sang ibu mencoba untuk membelanya namun tetap saja tidak berhasil. Reyhan tetap saja mendapat amarah dari sang ayah.
“Sekali lagi kamu berani bermain dengan anak miskin itu, maka ayah akan menghukummu dengan hukuman yang sangat berat. Kamu sudah berani mencemarkan nama baik keluarga ini deng...